NAKAL

Kisah ini bercerita tetang kisah seorang anak bernama Dio, yang merupakan anak yang cerdas dan aktif. Tetapi semua itu hilang semenjak semua orang membuly dan mengucilkannya. Merubah semuanya, sampai dia tak tahu lagi siapa dirinya sebenarnya. Dia kehilangan jati diri sebagai seorang Dio yang cerdas dan aktif.

Cerita berawal saat Dio masih anak-anak.
 "Saat aku duduk di Taman Kanak-kanak atau disingkat TK, aku merupakan anak yang aktif, cerdas dan selalu ceria serta punya banyak teman yang sama sepertiku. Hari-hari selalu aku jalani dengan penuh semangat. Setiap hari aku selalu bangun jam lima pagi untuk keluar main dengan teman-teman yang lain. Seperti biasa aku dan teman-teman melakukan permainan kesukaan kami yaitu petak umpet. Lumayan lah untuk olah raga sebelum berangkat ke sekolah. Selesai main petak umpet, kemudian kami pulang kerumah masing-masing untuk mandi dan sarapan sebelum berangkat sekolah. Kami berangkat sekolah bersama-sama, karena letak TK yang berada diseberang jalan raya. Dalam perjalanan menuju tempat penyebrangan ke sekolah, kami biasanya mengambil buah cermai milik tetangga yang ada di pinggir jalan. Kadang kala kami bosan, kami juga suka mengambil mangga muda punya salah satu tetangga. Sesampainya ditempat penyebrangan, kami juga suka usil pada orang yang nyebrangin jalan namanya Pak Tiono. Pernah sekali temanku melempar kerikil ketengah jalan dan kerikil itu terinjak oleh ban truk kemudian terpental mengenai kepala Pak Tiono. Dengan menahan rasa sakit dan marah kepada kami yang memang petakilan, Pak Tiono orangnya memang penyabar. Sampai di sekolahan kami tida langsung masuk ke dalam kelas, kami selalu gerombolan ke kantin. Di kantin itu kami membeli lotre yang dibungkus di dalam kotak kardus kecil yang harganya lima ratus rupiah. Hadiah yang bisa didapatkan cukup menarik untuk uang lima ratus rupiah, ada buku tulis, pensil, penggaris, mainan, bola plastik dan hadiah utamanya adalah uang lima ribu rupiah. Aku dan teman-temanku selalu curang saat membeli lotre, kadang kami juga tiidak bayar. Karena kami selali ramai-ramai saat membeli penjualnya tidak tahu kalau kami curang. Kami selalu menang banyak setiap kali membeli lotre, sampai suatu saat si penjual lotre itu curiga kepada kami. Kami dilaporkan kepada guru TK dan di hukum untuk menulis huruf alfabet sepuluh kali. Kami tidak pernah menyesali perbuatan itu, jika si penjual itu masih berjualan lotre kami tidak akan hentinya berbuat curang. Siapa yang tidak tergiur dengan hadiah seperti itu, sampai akhirnya penjual lotre itu berhenti berjualan lotre. Kami masih bisa berbuat curang saat jajan dikantin. Kadang kami beli nasi bungkus satu dan gorengan empat serta es teh. Biasanya habis tiga ribu rupiah, tapi karena kami cerdas, kami hanya membayar seribu lima ratus saja karena gorengan hanya kami hitung satu biji saja. Kenakalan kami tidak hanya di sekolahan saja. Sepulang sekolah kami juga suka kelayapan naik sepeda keliling desa, kami suka sbermain di depan rumah warga dan menggangu jam tidur mereka. Setiap sore kami biasanya main di sawah, meikmati pemandangan dan mencuri singkong yang ditanam di pinggiran sawah. Masa kecil kami  penuh petualangan, setiap hari libur kami menghabiskan waktu di hutan belakang rumah. Biasanya kami mandi di telaga yang tidak begitu dalam, hanya dua meter kedalamanya dengan air yang jernih dan pulau kecil di tengah telaga. Tetapi konon kata orang tua, telaga itu pernah memakan korban jiwa. Walupun ceritanya mistis, kami tidak pernah ragu dalam melakukan hal apapun itu. Buktinya sampai sekarang kami masih sehat semua dan tidak pernah ada masalah apa-apa, mungkin itu hanya perspektif dari para orang tua agar menakuti anak kecil agar tidak mandi di telaga. Karena kami semua sangat cerdas, saat mandi di telaga, kami melepas semua pakaian sehingga pakaian kami tidak basah. Setelah mandi di telaga, waktu liburan kami juga biasanya main bola di lapangan yang rumputnya kering menguning dan sangat luas, biasanya kami sampai tidak pulang kalau sudah main di lapangan. Dipinggir lapangan terdapat satu pohon yang tempatnya nyaman buat berteduh karena dahan dan daunnya yang rindang, kami sulap pohon itu sebagai rumah pohon dan base camp kami saat berkumpul. Kenakalan kami semua makin menjadi saat beranjak dewasa, kami pernah mencuri beberapa batang pohon tebu milik pabrik gula, kami juga pernah mencuri burung Cendet milik warga. Tetapi karena kami masih kecil, si pemilik burung tidak marah melainkan hanya menegur kami. Semakin hari kami mulai semkain beranjak besar, aku sempat di omongin di kalangan orang tua karena kenakalanku. Mereka mengira aku yang membuat anak mereka menjadi nakal, menurutku kenakalan seperti ini merupakan kenakalan anak yang wajar. Aku mulai merasa kedekatan dengan teman-teman mulai merenggang, tidak sesolid yang dulu. Aku memutuskan untuk tidak lagi nakal dan berusaha berbuat sewajarnya sebagai anak yang sudah dewasa. Semua itu merubah jati diriku yang dulu aktif, sekarang aku hanya orang yang pasif. Hanya bergerak ditempat saja, tidak berani berbaur kepada orang, selalu taku salah. Saat aku SMK, teman mainku saat kecil menjadi orang yang lebih arogan ketimbang aku sendiri. Mereka sudah mengenal yang namanya miras, rokok bahkan narkoba. Aku sangat heran, dulu aku yang dicap nakal tapi sekarang mereka biasa saja menanggapi anak mereka yang sudah rusak seperti itu. Aku sangat bingung, dimana letak kesalahanku yang dulu?, semua prinsip dalam kehidupanku hanyalah kekeluargaan. Semua temanku sudah aku anggap sebagai keluargaku sendiri, jika satu bahagia semua bahagia, jika satu sedih semua turut membantu mengurangi beban. Sampai saat ini prinsip kekeluargaan masih aku pegang, dan aku akan berjuang menjadi orang yang berhasil dan merubah prinsip pandangan orang tua terhadap anak yang nakal, tetapi anak yang cerdas dan aktif. Aku akan lebih memberikan bimbingan kepada anak yang aktif dan cerdas itu, serta menanamkan sikap kekeluargaan atau jiwa korsa."

Itu adalah kisah dari seorang anak yang bernama Dio, yang sudah kehilangan jati dirinya sebagai anak yang aktif dan cerdas, tetapi dia mulai berusaha untuk merubah kenyataan bahwa anak yang nakal bukan berpotensi buruk. Tetapi jika dibimbing kearah yang lebih baik dan ditanamkan jika korsa makan suatu saat akan menjadi pembangun bangsa di masa depan.

Comments

Popular Posts