Orang Lain dalam Diri ini
Maaf...
Maafkan diri ini yang selalu tak peduli akan tindakanmu, responmu dan perhatianmu. Memang tampak diri ini selalu cuek dengan keadaan, tapi sebenarnya tidak. Diri ini sebenarnya peduli akan semua hal itu. Tapi entah mengapa rasa takut, gundah dan gelisah membayangi diri ini. Seperti bukan diriku melainkan orang lain. Bahkan setiap mendengar cerita cerita humor, mulut ini memang menampakkan seyum tapi tidak asli dari dalam hati. Setiap saat diriku selalu bingung dengan apa yang akan kulakukan. Selalu berfikir untuk menempatkan ekspresi yang tepat ketika seseorang berbicara kepadaku. Sebenarnya itu bukan diriku. Entah dimana jati diri yang dulu kumiliki.
Bawalah aku keluar dari keadaan ini. Semuanya nampak palsu dan tidak dapat kurasakan lagi tawa lepas yang keluar murni dari dalam hati. Kapan aku bisa seperti dulu, yang bebas dan lepas. Tidak seperti sekarang, emosiku yang selalu tertahan. Ajaklah aku bersamamu, mungkin pelukan hangatmu bisa mengembalikan sedikit emosi yang hilang dari diriku.
Ketahuilah bahwa semua itu terjadi tanpa kusadari. Ternyata diri ini memaksa untuk menjadi orang lain, sehingga merubah diriku yang dulu menjadi menjadi seperti ini. Sekarang hanya kopi yang dapat mengerti perasaanku. Ini memang sedikit gila, karena kopi tidak memiliki perasaan. Tapi dari dalam hatiku mengibaratkan kau sebagai teman yang pas untuk menemani malam mingguku yang sepi.
Untuk merubah diri menjadi orang lain memang sulit, tetapi untuk menjadi diri sendiri itu lebih sulit dari yang kubayangkan. Aku tidak pandai mencari perhatian darimu, karena emosi yang sangat rumit ini membingungkan diriku. Kuharap engkau tahu. Bahwa aku ingin bersamamu, aku ingin mendengarkan ceritamu, ingin kupegang tanganmu, inginku merasakan hangatnya pelukanmu. Bahwa sebenarnya aku ingin semua itu dirasakan dari jati diriku bukan dari jati diri orang lain yang ada didalam diriku. Ulurkan tangan harapan dari hatimu, agar aku bisa mengobati emosiku yang hilang.
Comments
Post a Comment