MALAM yang INDAH
Malam yang cerah, aku keluar ruamah dan melihat langit. Begitu indah pemandangan di langit, bulan yang bersinar sangat terang, awan putih yang nampak sangat indah terpantul oleh cahaya bulan dan hembusan angin yang sepoi-sepoi menambah rasa nyaman pada malam ini. Ku tatap terus pemandangan malam yang indah ini, serta kurasakan hawanya yang menenangkan hati. Tidak sekalipun pandanganku berpaling pada langit malam. Aku berharap pemandangan malam seperti ini bisa dinikmati semua orang didunia, aku yakin orang yang melihatnya juga merasakan hal yang sama seperti yang kurasakan. Perasaan ini sangat nyaman dan sangat tenang, seperti tidur dipangkuan ibu sambil diusap kepalanya. Kenyamanan dan ketenngan yang sangat meluluhkan perasaaan, kenyamanan yang membuat ku ingin terus menatapnya. Bahkan jika ada rasa kangen yang mengganjal di hati karena rindu pada ibu, kenyamanan ini sedikit menurangi beban di hati.
Tidak henti-hentinya aku memuji keindahan yang tuhan berikan malam ini, tak terasa air mata ini tak terbendung lagi. Aku meneteskan air mata, bukan karena aku mangis tetapi aku bahagia dan terharu. Aku tidak ingin malam seperti ini dilewatkan semua orang, aku ingin semua orang merasakan yang aku rasaakan, kenyamanan yang tiada tara. Aku tersenyum bahagia semua emosi bersatu dengan ekspresi muka datar dan air mata yang terus keluar. Hingga tiba saat aku berpaling pandangan, malam itu aku mendapat tugas mencuci mobil bersama ayahku dilapangan. Tentu kesempatan ini tidak aku lewatkan, karena bisa menikmati keindahan malam tidak hanya di rumah saja. Pemandangan dilpangan itu jauh lebih indah dan menakjubkan, hatiku jadi semakin tersentuh. Di saat aku mencuci mobil, aku mengeluarkan air mata yang tiada henti. Perasaan yang tiada menentu ini mengganjal di dadaku, semua emosi berkumpul menjadi satu dan terbawa perasaan secara bersama-sama. Aku ingin melepas semua perasaan yang sudah ku pendam dari dulu, perasaan marah, bahagia, sedih, senang dan yang lainya. Setelah aku selesai mencuci mobil dengan ayahku, aku berhenti dilapangan sejenak. Dilapangan, sendirian hanya ditemani sinar bulan dan angin yang sepoi-sepoi aku melepas semua emosi yang bercampur menjadi satu. Aku tarik nafas panjang lalu ku hempaskan dengan satu teriakan, semua rasa emosi yang mengganjal dalam dada langsung lenyap sudah.
Kemudian aku pulang, ku seduh secangkir teh yang tak begitu manis dan ku putar beberapa lagu soumdtrack anime yang berirama lembut dengan volume tipis yang menemani malam ini. Sudah puas aku menikmati malam yang indah ini, dari malam sampai menjelang pagi. Keindahaan itu seakan pudar seiring berjalannya waktu. Aku kembali masuk kedalam rumah, menyalakan pendingin ruangan dan menarik selimut. Setelah itu aku sadar bahwa seiring berjalannya waktu, keindahan dunia akan pudar juga seiring berjalannya waktu. Keindahan yang hakiki hanya Disana dan hanya milikNya.
Comments
Post a Comment