Cerita dari Ibu
Kenalin nama gue Naufal Ulin Nuha, umur gue 19 tahun kuliah di Universitas PGRI Semarang, Fakultas Bahasa dan Seni, gue ambil progam studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Gue termasuk mahasiswa yang pemalas, walaupun malas tapi nilai UAS gue nggak jelek jelek amat. Meskipun usia gue udah terbilang cukup disebut sebagai oang dewasa, tapi gue masih suka dimanja sama orang tua karrena gue anak tunggal. Karena gue anak tunggal, ibu gue sering bilang ke gue "Nak, jadilah orang yang berguna kelak! Jangan merusak hidupmu dengan hal negatif, berbaktilah kepada orang tuamu, jadilah orang yang sukses nanti!!". Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut ibu gue, gue jadi semakin yakin akan semua tanggung jawab yang diberikan kepada gue. Intinya gue harus menjadi orang yang sukses kelak nantinya, menjadi orang yang baik dan berbakti kepada orang tua sertaa bermanfaat bagi sesama.
Setelah ngomong panjang lebar tentanng semua itu, ibu lnagsung cerita tentang masa kecil gue yang amat sangat menyedihkan. Ibuku bilang bahwa, dulu pas mengandung gue dengan usia kandungan 5 sampai 6 bulanan, ibuku pernah jatuh dari motor saat mengandungku. Kejadian itu membuat trauma yang panjang bagi ibuku, sampai di usiaku yang ke 19 tahun ibuku masih trauma naik sepeda motor. Setelah beberapa bulan berlalu, akhirnya ibuku melahirkan gue, ditengah proses persalinan dan gue masih belum keluar dari perut ibuku, dia hampir kehabisan nafas, karena proses persalinan ibuku dilakukan dirumah, ayahku panik bukan main. Ayahku sampai menyewa mobil pickup untuk membawa ibuku ke rumah sakit, dengan tergesa-gesa ayahku ngebut menuju rumah sakit (A), tetapi karena bertepatan pada malam tabiran rumah sakit (A) tidak mau menerima ibuku dan menyuruhnya pulang menunggu esok hari. Namun ayahku tidak mau menunggu lagi, kemudian ibuku dibopong sendirian dan diantar ke rumah sakit (C), dengan jrak yang lumayan jauh ayahku hanya butuh waktu 15 menit menuju rumah sakit (C). Ayahku ngebut dan sangat panik, sampai-sampai pas nyetir dia hanya melihat ibuku dan tak berkonsessntrasi melihat jalan. Setelah sampai di rumah sakit (C), akhirnya rumah sakit itu mau menerima ibuku dan proses persalinan ibuku dibantu dengan tenaga medis. Setelah gue lahir, ayahku langsung bahagia mendengar bayinya lahir, serta cemas dengan keadaan ibuku yang sudahh hampir kehabisan nafas pada saat itu. Alhasil ayahku lari menuju dalam kamar persalinan dengan perasaan campur aduk tak peduli sekitar dan ayahku menabrak pintu kamar yang terbuat dari kaca. Sontak ayahku kaget, karena kurang fokus pintu kaca pun dia tabrak.
Gue terlahir sehat, setelah lahir gue masih harus dirawat di rumah sakit agar gizi terjaga. Tepat di rumah sakit yang sama, temen gue juga dilahirkan setelah gue lahir. Mulai 0 sampai 10 bulan gue masih sehat-sehat saja. Setelah di usia 10 bulan gue sakit, setiab hari muntah dan BAB, itu membuatku jadi kekurangan cairan dan sekujur tubuhku menjadi biru. Wajahku mulai menguncup, tubuhku kurus kering seperti zombi. Ayahku kembali panik, karena melihat anaknya yang lemah lesu seperti bayi yang sekarat. Gue kembali dirawat di rumah sakit, selang beberapa minggu gue dinyatakan sembuh dan bisa pulang. Tetapi setelah beberapa hari penyakit itu kembali kambuh dan gue dibawa ke rumah sakit (C) yang dulu pernah menjadi tempat pertamaku lahir. Berbulan-bulan gue dirawat disana. Ayahku sangat bingung karena sudaah banyak hutang demi merawat buah hatinya. Setelah gue dinyatakan bener-bener sembuh, gue yang dulunya sangat aktif bergerak menjadi bayi yang pasif, yang kerjaannya hanya duduk dipangkuan nenek gue. Setelah gue dirawat di rumah sakit, nenek yang merawatku dari usia 1,5 tahun sampai gue lulus Sekolah Dasar. Bahkan hampir jarang sekali gue bertemu orang tua gue yang sudah melahirkan gue. Sampai di usia 13 tahun gue duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama, gue masih jarang-jarang bertemu ibuku bahkan kalau bertemu gue merasa canggung sendiri. Gue dulu malah nggak ngenalin ibu gue sendiri, bahkan setelah bertemu dengan kedua orang tua gue, gue nggak punya respon baik apapun kepada mereka. Tetapi dengan berjalannya waktu, gue mulai mencoba sedikit demi sedikit mengenal orang tua gue yang dulu jarang gue lihat sampai di usia 13 tahun, waktu yang cukup lama. Kasih sayang yang gue dapat hanya dari nenekku dan adik dari ibuku yang sudah aku anggap sebagai kakak gue.
Bahkan di usia gue ini, gue masih seneng dibacain cerita-cerita rakyat sama nenek gue, bahkan gue masih seneng dimanja sama kedua orang tua gue. Selama mereka masih hidup, gue bakal nurutin semua perintahnya dan senantiasa membahagiakannya dengan sedikit memberi perhatian kecil yang bisa membuatnya senang.
Comments
Post a Comment